Dunia Islam

BUKA CONFERENCE DI SURABAYA KASUBDIT PENELITIAN & PENGABDIAN MASYARAKAT DIKTIS SAMPAIKAN EMPAT PILAR

IAIRM | Rabu, 31 Oktober 2018 - 11:03:19 WIB | dibaca: 86 pembaca

Pilar (khitoh) pertama yang harus dilakukan oleh Perguruan Tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam adalah reproduksi ilmu. Oleh karena itu setiap dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dituntut untuk melakukan reproduksi ilmu pengetahuan. Karena dengan adanya reproduksi ilmu, wacana-wacana akandemik akan bertambah. Salah satu cara untuk melakukan reproduks ilmu pengetahuan itu adalah dengan melakukan riset (penelitian). Hal itu disampaikan Dr. Soewendi, M.Ag, Kasubdit Penelitian & Pengabdian Masyarakat Diktis Kemenag RI, dalam sambutannya saat membuka acara 2rd Annual Conference on Community Engagement, bertempat di hotel Swiss-Belinn Airport Surabaya, Jum’at-Minggu 26-28 Oktober 2018. 

Perwakilan IAIRM Ngabar Ponorogo turut berpartisipasi dalam conference  yang  diadakan oleh UIN Sunan Ampel Surabaya itu, setelah artikel berjudul Pelestarian Tradisi Ngumbah Keris dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Melalui Demonstrasi Ngumbah Keris Pada Bulan Suro di Ponorogo yang merupakan tindak lanjut dari hasil riset tahun 2017, oleh panitia dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti conference tersebut. 

Selanjutnya, pilar ke-dua menurut Suwendi yaitu, sosialisai faham-faham keislaman yang moderat, faham-faham yang menyejukkan dan memberikan solusi terhadap problem-problem yang ada di masyarakat, dan faham-faham keislaman yang mengakomodir terhadap jati diri keindonesiaan. Sedangkan pilar ke-tiga adalah keindonesiaan itu sendiri. Dalam konteks keindonesiaan ini menurut Suwendi, siapun orangnya yang berkecimpung di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam atas dasar apapun jangan sampai menghilangkan faham keindonesiaan. Pilar yang ke-empat adalah kemasyarakatan. Yang penting dalam konteks pengabdian masyarakat ini adalah bahwa Perguruan Tinggi hadir untuk mendampingi, mengadvokasi terhadap problem-problem yang terjadi di masyarakat. Perguruan Tinggi bukanlah menara gading yang berdiri di atas masyarakat dan tidak mau turun bergabung dengan masyarakat.

Catatan penting dari hasil conference ini adalah bahwa di dalam masyarakat tidak ada pembedaan bidang ilmu antara masyarakat Tarbiyah, masyarakat Ushuludin, masyarakat Teknik Sipil, masyarakat Syariah dan seterusnya. Pembedaan seperti itu hanya ada di Perguruan Tinggi. Oleh karenanya, dosen dengan disiplin ilmu apapun yang dimiliki hendaknya tanggap terhadap problem-problem apapun yang dihadapi oleh masyarakat. Catatan penting lainnya dari conference ini adalah, bahwa seorang dosen dengan disiplin ilmu apapun yang dimiliki, tidak mungkin bekerja sendirian dalam melakukan pendampingan terhadap masyarakat. Dia selalu butuh bersinergi dengan orang lain yang memiliki disiplin ilmu yang berbeda, untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. (SM)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)